27 April 2008
Modal BERBAGI
Pernahkah terpaksa melawan ketidakbiasaan ?
Pernahkah merasa tak-aneh karena ketidakpedulian ?
Apakah merasakan kelaziman karena ketidaktahuan atau keterpaksaan ?
apa yang paling penting, sejengkal tanah, sebaris nama baik ataukah berderet prestasi ?
catatan siapa dan apa paling abadi ?
Beranikah menyembulkan iman dan keteguhan dien saat nyawa hendak putus-nadi ?
Apa yang harus ditiadakan ?
hah...?!
Saat merasa jadi pejuang, apa yang pantas diperjuangkan ?
Saat merasa jadi penguasa, apa yang pantas dikuasai ?
Sewaktu pantas di pentas kepemimpinan, apa yang dipimpin ?
Seperti halnya merasa pantas jadi guru, dosen, tutor, instruktur, apa yang pantas diajarkan ?
{mosimage}marmotji merasa semuanya diperjudikan bukan diperjualbelikan.
marmotji lihat ada kepantasan memperjualbelikan sesuatu yang layak diperjudikan.
adakah firman dalam Kitabullah, menyebutkan ajakan perjudian. Rasanya hanya disebut tantangan berjual-beli kepadaNYA.
Perjudian memang jauh lebih menguntungkan dari jual-beli.
Tak adakah siswa belajar, selain karena mengejar pernyataan ijazah yang bukan kenyataan pandai.
mana ada kenyataan bodoh, harus dituliskan, tetapi kenyataan pandai, seolah layak saja dituliskan.
mana ada kenyataan jadi pesuruh, harus dicatatkan, tetapi menjadi pemimpin, seolah tinta se-ember harus tercurah.
Mengapa kenyataan berdiri-sendiri harus diingkari, dan memaksakan keharusan bersatu.
Padahal belum tentu yang memaksakan keharusan itu paham makna bersatu.
marmotji sadar, sikap paling abadi adalah sikap kekanakan.
sedari kecil selalu ada simbol
hingga dewasa, malah memuja simbol, bahkan rela menumpahkan darah sesama
saat bersedekah, pernahkah terpikirkan untuk berikan meriam atau senapan mesin pada yang di-sedekahi.
kalau bersedekah, hanya berikan bahan makanan sekedar bertahan hidup, buat apa ?
sedekah, kalau cuman sepotong-dua baju bagus, buat apa ?
berbagi, kalau cuman berikan kesempatan berperan kecil, buat apa ?
kalau para pengemis bisa merampok sebisa mereka, maka kemungkinan mendapat uang lebih dari recehan lebih besar.
Mengapa takut ? jangan-jangan diri sendiri pun pernah merampok walau tanpa senjata-mematikan.
Barangkali kata dan kalimat bahkan goresan pena bisa membunuh, lebih lama proses kematiannya dan jauh lebih menyiksa.
Bukankah justru banyak sekali perampok berkeliaran dengan baju perlente dan mobil mengkilap, dan berlagak bak bagian kaum yang sangat terhormat dan ber-etika tinggi.
Padahal dengan jentikan jemari saja, bisa hilangkan seribu nyawa sekaligus.
Makin berdaya seseorang, makin tinggi kemampuannya sebabkan kematian sesama.
Siapa yang yakini, pengemis mampu merampok sebanyak para ahli korupsi.
Karena mereka terbiasa menghiba daripada pamer wajah bengis.
Beruntunglah orang yang dua tangannya buntung, bahkan juga dua kakinya, sekaligus bisu, tuli dan buta.
Jangan bertanya adakah ?
tapi mampukah bayangkan menjadi orang seperti itu ?
benarkah orang seperti itu justru seolah layak di sedekahi. Bagaimana harus menerima disaat tangannya buntung ?
mengapa seorang presiden, tak sedekah-kan jabatannya barang dua-tiga hari pada pengemis di perempatan jalan ?
mengapa seorang ketua parlemen, tak sedekah-kan kekuatan hukumnya memimpin sidang sekali saja, pada seorang pengamen depot pinggir jalan ?
mengapa seorang professor, tak berikan kesempatan seorang bisu-tuli tunjukkan sebuah grafiti dalam layar presentasinya dalam sebuah pertemuan guru-besar ?
dan
mengapa seorang jenderal tentara, tak berikan tongkat komando-nya pada seorang tukang bakso keliling yang bermandi peluh keliling kampung, agar sekali-saja bisa rasakan betapa lebih-enaknya mengatur bola-bola daging mati dalam kuali panasnya, daripada atur kepala-kepala berhelm yang belum tentu sama antara derak-suara dan tindakan.
sedekah bukanlah sesuatu yang diambil dari onggokan kantong terdalam, tetapi sesuatu yang sangat berharga.
Jabatan bukanlah aurat yang harus dibungkus aman berlapis-lapis.
Kehormatan bukanlah urat kematian.
Keindahan mutiara bukan karena kehalusannya, tetapi kerling-kilapnya.
Bila merasa menjadi seorang peneliti, lalu hanya duduk nanar tatap kumpulan angka, tanpa tahu denyut nadi masyarakatnya, bisakah dibedakan dari seorang penyair, yang butuh tenangkan diri memilah kata dan rima ?
kalau belum bisa bedakan mana sedekah dan berbagi, lebih baik jangan pernah mimpi memimpin barang seorang pun .
Karena hasilnya pasti kejahatan dan kedholiman.
Sedekahkan kehormatan, kepercayaan diri, keteguhan hati, kekuatan bersikap, ketajaman pandang.
Tak ada yang menyesalinya kecuali kebahagiaan.
21 April 2008
Mak Gwa ?
Kalau Kartini terpengaruh, ya manusiawi. Lagipula trinil satu ini, selain adik-adiknya, tidak ada lagi yang dengarkan sambil cari pemecahan cerdasnya.
Bisa jadi Hari Kartini ini dipandang juga Hari Rosa. mau apa ? Rosa kan juga manusia. Emang harus manusia Indonesia yang berjasa ? Wih, jahat amat sih... apa kalau sudah digelari penjajah, tak satu pun tindakannya yang bisa dimaknakan berakhlak ? Kan nama-nama Walandi yang punya jasa bak sisi mata-uang, juga ndak kurang.
Bukti yang jelas-jelas ganjil adalah seorang Daendels. Sampai sekarang pun jalan megah Anyer-Panarukan masih jadi urat-nadi utama. Emangnya sudah ada prestasi bangun jalan panjang yang esensial ? Maaannnaaaa....
Artinya apa ya kalau ini sampai tersilap dari sejarah manusia Indonesia ?
marmotji berani bilang, ada pendidikan yang disengajakan untuk timbulnya manusia Indonesia yang sombong, ultra percaya diri dan ndak bisa lihat tengkuknya sendiri.
ya jelas, marmotji tak ingin mental inlander pun jadi kepangkatan awet, tapi mikir dong, buat apa juga berjalan sombong di tanah air yang setetes pun ndak bisa bikin. Belagu!. Gitu aja rebutan kekuasaan, dan dipamer-pamerkan pake kampanye lagi.
Apalagi kalau ada yang mempermasalahkan kemiskinan. Apa ndak keblinger.
Persis pula kasus siswa peserta UNAS, terus nangis-nangis karena tidak lulus, ketakutan dengan prosedur tidak jelas yang harus ditempuh setelahnya. Padahal tahu aja enggak.
Waduuuuhhh...maaaak...engkau dimaaaanaaaaa....
Ibu yang tenang, tangannya menggenggam ubun-ubun anaknya. adalah tempat mengadu yang teduh.
Ibu yang menyungging senyum ikhlasnya, meremas hati anaknya yang sudah terlanjur terpikat cinta gadis pujaannya.
Emangnya orang-orang penting itu gak punya ibu, sehingga berani bertindak kejam pada ibu-ibu yang hanya punya susu dari payudaranya untuk anaknya ?
Apa para siswa yang ketakutan UNAS, sekaligus para guru yang kebingungan kalau prestasi anak-didiknya berimbas jelek pada karirnya, gak mikir, karir seorang ibu justru bertaruh nyawa ? baru UNAS aja yang gak pake pembunuhan sudah melolong-lolong ndak karuan.
Kalo ada perkosaan, apa harus ada pria-wanita ? jangan-jangan enggak
Apa lagi kalo ada lokalisasi. Itu orang atau sapi disana ? perempuan perkasa yang harus diperas habis oleh lenguhan nafsu puas 10-15 laki-laki ?
Kog ya ada orang yang tenang-tenang aja makan duit itu ? Waraskah bila uang itu disuapkan ke anaknya yang juga lahir dari makhluk sejenis dengan perahannya ?
marmotji bertanya-tanya, jangan-jangan ada kaum ibu yang dirubah menjadi laki-laki.
Sehingga tak lagi sayang pada oroknya.
Sehingga bisa jadi rentenir moral bagi masyarakatnya.
Dan menggadaikan kemaluannya atas nama kemajuan ?
Musti jadi sticker dijidat.
Kartini hanya simbol.
Kartini hanya nama.
Tapi jasad, bentuk keperempuanannya adalah pembelajaran Dari Yang Maha Membagi Rejeki.
Dan rejeki itu kebetulan bernama Kartini.
Jadi ndak ada hubungannya dengan pakaian-pakaian adat yang dilombakan tiap hari Kartini.
marmotji malah pengen nonton lomba bikini, lomba pamer kemaluan dengan peserta anak-anak TK sampe mahasiswa.
Biar mereka ndak malu lagi mengemis, walau menjual harga diri terdalamnya nantinya saat dewasa.
marmotji berani bertaruh dengan nyawa.
Kemiskinan.
Kebodohan.
Kemelaratan moral.
Kenistaan masa depan.
semua itu akibat pindah-tempatnya otak belajar manusia-manusia Indonesia ke dengkulnya...
Jadi otak dipake ngesot...
sudah kaya, ngaku miskin.
sudah punya bini, masih cari yang lain.
sudah jadi khalifah, malah napsu rebutan pangkat.
orang-orang dungu macam begini ini, harus belajar sunat lagi !!!!
mirip pepatah, anak dipangkuan dibuang, anak beruk disusui. Tak punya harga diri.
marmotji ndak sanggup mencaci-maki mereka lebih buruk lagi, saking tidak pantasnya mereka dilihat punya dahi diatas mata.
Maaaaaaaakkk....aku harus kemana mencarimuu....
Aku mau nangiisssss....
minta maaaeeemmm....engkau yang menyuap dengan senyum terindahmu...
mana cintamu, mana sayangmu...
semuanya telah merebut sekolah akhlak abadimu...
Maaaak...panggillah namaku...
Darimu. aku lahir...
cintaku, semuanya milikmu...
Maaaaaaaaaakkkkk......ampuni akuuuuu.....
14 April 2008
Kebetulan
Kenapa mesti sembunyikan wajah. Nongol dong.
Biasa mimpikan tak ada perubahan ke arah lebih baik, melawan kog malu-malu.
Coba dong. Biasa bagikan ide, ya berani nongol. Mengapa mesti takut.
Kan perubahan adalah kenyataan tak terhindarkan. Kog takut ngaku.
Haruusss...punya kekuatan melawan.
Dan melawan perubahan itu berarti punya kekuatan. Kog jadi gitu, enggan mengaku.
Banyak loh, yang ndak ingin ada perubahan.
Ndak pengen keadaan berubah, ya tetep-tetep aja.
Ndak mimpi ada suasana yang lega, teteep aja.
Wong biasanya begini, harus diubah begitu..itu kan ndak bener.
Banyak yang dah beken ma yang biasanya dilakukan, gak usah diubahlah.
Biasanya yang pengen diubah itu yang gak kebagian.
Lagi pula ngapain sih susah-susah ngerubah...? Kog ribet banget...
Ntar kalo perubahan dijalanin, terus banyak yang ndak setuju, baru tahu rasa, nyesel lagi, trus dibalikin lagi, dah kepalang tanggung.
Udahlah. Ndak usah mikir yang susah-susah.
Mikir perubahan itu bener-bener boros tenaga.
Gak usahlah, kenceng-kenceng. Gitu kan ?
Mangkanyaa... kalo ndak pengen ada perubahan itu, jangan sembunyi.
Kan pasti banyak yang setuju.
Yang penting, ada makan, ada baju, dan ada rumah. Ya udah. Tiga-tiganya aja dipikirin. Sampe yang paling mewah.
Yang lama-lama dibagiin. Sumbangan makanan yang dah bosen. Sumbangan baju bekas. Ndak usah aneh-aneh mikir perubahan kan ?
Ini pasti setuju, bukan ? Perubahan harus dilawan.
Masih muda senang-senang. Ada yang ditaksir, ya diajak pacaran.
Sukur-sukur mau diajak kawin.
Punya anak, punya cucu.
Mati tenang. Beres.
Kog pake mimpi perubahan.
Tapi, marmotji mikir, jangan-jangan yang nglawan perubahan ini kebetulan lupa. Dia lupa...makin tua dan mati juga perubahan. Kenapa ndak mikir, hidup aja 2000 tahun...?
Yah...kebetulan khilaf dan males minta maaf.
Bersama kita bisa...bisa dungu !
Kebetulan Tuhan emang gak diajak kenduri. Yah kebetulan sih.
12 March 2008
Bahasa, Cerminnya Sapa ?
Bosan berkali-kali bicarakan cita-cita ingin maju. Karena kalau dibanding kalangan pemuka negeri di 1928 atau 1928. Ndak peduli mo dokter, ekonomi, filsafat atau apa.
Ini bicara kemanusiaan bukan bicara pekerjaan. Kalau singgung profesi, barangkali harus mikir, apa masih punya urat-malu nyambung atau endak.
Makna manusia hadir di tiap jengkal bumi ciptaanNYA adalah menanggung beban kekhalifahan. Entah di bawah tritis toko, entah dibawah kolong beton beralas kasur, bisa ngorok atau enggak.
Malu mustinya bicarakan pangkat. Waktu lahir procot, ndak pake lambang metalik atau melati.
Toh kalau kena banjir, tetep aja bilangnya tooollooonnggg.....
Ndak ada manusia yang menghadapi bahaya, trus bilang makasih..makasih...baru kali ini loh, saya dapat pengalaman bahaya...
Ada beberapa orang yang marmotji pikir adalah orang-orang cari sensasi, bilang 2008 adalah 100 tahun kebangkitan bangsa. okelah kalau cuman ngomong tanpa efek. Ternyata efeknya sudah milyaran dibelanjakan untuk promosi pariwisata. Hasilnya apa ? perasaan marmotji, orang-orang ini sekolah juga mbayar pake uang, bukan nglempar pisang atau telor ke gurunya. Kog bisanya cuman segitu...
marmotji mikir, keterandalan diri sekarang dengan kekuntetannya, mestinya malu bilang kebangkitan ke seratus, karena ternyata kalau dihitung-hitung berapa kata sih yang dikuasai tiap orang Indonesia dengan benar berikut makna, tafsir dan artinya ?
Hayo rek...ituuuungg... kalian itu bisa bahasa Indonesia berapa kata ? kalau kalian sudah lulus SMU, lulus sarjana, jadi penggedhe, jadi boss... bisa mimpin pertemuan senyaman apa ? sejelas apa ?
Bahasamu keluar pake mulut atau pakai mata, pakai bibir, pakai pinggul, pake bokong ? hah...?
Buat apa jadi sarjana kalo ternyata nulis saja ndak lebih baik dari anak SD bikin cerita berlibur ke desa embahnya yang embuh ndak pernah ngerti dimana letaknya dipeta.
Apa lagi jadi master, doktor yang ternyata menjelaskan pendapatnya secara lisan saja, masih pake kata sengau...ngng..ngng...ngng...
Orang sekolahan apa lalat ? kog masih pake kata sengau...mendengung.... apa memang lebih pantas jadi lalat bertitel doktor ?.
Kalo gitu ngapain boros tenaga hanya buat sekolah...kalau cuman bisa ngngngngngngngng..thoookkkk...mau jadi denbei ? Telaaat...ini sudah bukan jaman kiblik lagi !!!
Jadi tuan ndoro ambtenaaren...sudah telaat...
Tapi mau jadi si kumbang hitam pembela kebenaran, BERUBAH !!! apalagi...
telaaaat...
Negeri ini butuh orang-orang bergelar doktor bukan sekedar jadi saingan para penyiar berita, tapi menjadi tukang bedah kemajuan dan memajukan bangsanya. Standar kebisaannya adalah menulis, menulis...
Apa malah corat-coret doang bisanya ?
Keberanian bersilang pendapat ? jangan-jangan malah kalah sama siswa SD, abis musuhan akur lagi. kalah waras dong.
Ujung-ujungnya ngomong pangkat, bersudut kecanggihan koneksi. Atau cari kesangaran social networking ? Nggggooonddddhooooq ni yeee...
Kalo saja orang-orang begini diteleportasi ke jaman 1908 dan 1928, kira-kira jadi tukang keplok dan koor 'setujuuuuu' apa ya layak ?
Mari kita tilik setelah menghitung jumlah kata yang dikuasai dengan benar dan cepat terekspresikan.
Coba hitung, berapa banyak pikiran-pikiran anda yang sempat pindah kedalam tulisan ? Boooleeeeh, idolakan Sukarno, kalo kakek anda nasionalis. Tapi ingat, dia jago pidato, tapi juga jago baca, jago keluyuran perpustakaan, dan tulisan-tulisannya bagus. Ndak pernah baca ? Salah sendiri miskin akses, masih untung punya malu belum pernah baca tulisan Sukarno.
Ada yang idolakan Hatta, yang sosialis ? boleh. Berapa banyak manuskrip Hatta yang terbaca ?
Jangan-jangan idola anda adalah Sengkuni, yang hobinya bikin celaka Pandawa. weeeessssss....
Coba trace ke masa lampau, berapa banyak tokoh pergerakan yang buta huruf, dan ndak bisa nulis ?
Apa juga hatinya buta ? Cuman bibirnya thok yang cengar-cengir kayak bibir penyanyi kurang gincu...hah
Pembawa kemajuan adalah pemilik pemikiran visioner. Lhah kalau pemikirannya tak pernah ditulis, bagaimana hendak mengajak kemajuan.
Pendidikan yang maju, terjejaki dari banyaknya tulisan-tulisan bermutu. Kualitas hanya dapat diperoleh jika ada persaingan yang jujur dan terbuka.
Lhah kalo nggondhokan, maju dapat darimana...dari gigi tongos...trus bunyi..ting..
marmotji berani katakan, seratus tahun yang lalu jauh lebih maju dari sekarang. Dari sisi manapun.
Dari sisi penguasaan bahasa, jagoan-jagoan pergerakan itu minim kuasai tiga bahasa. Cari sendiri datanya. Sudah jelas bacaannya berkualitas.
Dari sisi jumlah buku yang dibaca, secara statistik pasti lebih banyak, hitung saja, Soekarno pada saat ditahan di Sukamiskin, sehari satu buku. HAMKA malah mberesin tafsir AL AZHAR dalam waktu 3 tahun ditahanan. Hatta sehari bisa menjalin 6 buku. Natsir bisa buka buku sekaligus 9 buah, Agoes Salim apalagi...dengan ketrampilannya lebih dari 10 bahasa.
Mereka bergelar doktor honoris causa !!! gak pake kuliah !!!
marmotji tidak berniat mencaci siapa pun doktor itu, tapi tolonglah jadi lokomotif independen. Sudah resiko saat mengambil gelar itu. Malu ah sama tukang becak, yang berani mahal menelan resikonya.
Bahasa adalah kunci kemajuan. Coba periksa, berapa banyak kosa kata sehari-hari yang cepat berpindah ke bahasa asing, Inggris misalnya.
Sadar gak seh... Awas kalo ma-mik(males mikir)
Dalam ilmu sains, ada epistemologi, ada pula ontologi...husss..jangan ngomong ontoseno...itu laeen...
Sadar gak sih, setiap hari kalo berinternet itu, ilmu statistik bergantung mati sama dua hal itu ? Kalo lagi googling, kalo lagi cari-cari...kog enak langsung nemu...?
Apa setan yang nyari ? Apa jin ?
Pikir dong...
Itu adalah sinergi ilmu statistik dengan epistemologi bersama ontologi.
Kecermatan berbahasa, berguna jelaskan pemikiran-pemikiran dengan seksama, agar tidak ada kesalahan pemaknaan.
Pernah coba jelaskan sesuatu dan uji lagi berapa kekeliruan yang terjadi setelahnya ?
Tolong dong gelisah !!!
Kesalahan pendidikan sudah jelas selama ini, karena bahasa yang sesungguhnya dimanfaatkan untuk berkomunikasi sudah makin kerdil menjadi sekadar bahasa wakil, cerminan kebutuhan ragawi, berupa uang semata.
Ya pantas saja, keinginan meneliti hanya sebatas pesanan, bukan karena rasa ingin tahu.
[.....
Pergi ke sekolah menuntut ilmu.
Ngantri nyogok agar terhormat karena almamater
Bukan karena bakal bisa peroleh kesempatan berbakti...
Ya pantas, pengetahuan ber Tuhan pun cuman hafalan...!!!!
'MALU' sudah masuk wc !!! gabung bareng kotoran perut.
.....]
Karena meneliti pun butuh kekayaan pikir, dan mana mungkin maju, karena sumber pengetahuannya adalah berbahasa asing.
Mau diterjemahkan ? Bisa apa bahasa nasional kita ? Wong yang punya gelaran paling tinggi saja, bingung kursus bahasa asing.
marmotji jamin tidak bakal bisa mahir, mengapa ? karena penguasaan bahasa-ibu mereka miskin sekali. dan marmotji bersikap demikian berdasar pengalaman dan pengetahuan.
Indonesia hanya punya kembaran satu, yaitu Thailand. Tapi sayangnya sekali lagi tak mampu manfaatkan kesempatan politik di masa lalu. Kini pengembangan teknologi Thailand pun bertaraf jauh dari Indonesia.
Satu-satunya cara adalah banyak-banyak menulis, berinteraksi, berani bersilang-pendapat, bukan berdebat !!!.
Perkaya bahasa Indonesia !
Kemampuan memaknai adalah kursus termanjur. Percayalah.
Sangatlah berarti perkaya makna guna kemajuan ilmu yang ditekuni kini.
Mari berkaca pada buku, jangan cari cermin.
Karena buku dibelah pun, tetap ada tulisannya.
Sumpahin Pemuda...
Berbangsa satu, bangsane pengecut...
Bernusa satu, nusa kambangan...
Berbahasa satu, bahasa pasaran...
Ndak usah ngomong nasionalisme, atau kebanggaan.
Ikat dulu perut pake batu, baru kacak pinggang yang bener. Awas celana mlorot !!!
20 January 2008
belajar MARAH
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. Sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali.
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. Sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali.
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. Sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali.
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. Sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali.
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. Sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali.
Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh.
Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri
Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah..
Jangan pernah mengalah pada diri sendiri...
Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah...
Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya.
Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang...
caci-maki aurat terpajang...
Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan
Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri
tapi marah bukanlah sebuah peperangan
cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan
tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah...
tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil
Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar.
16 October 2007
STMJ = Kultur-Kultus-Klutuk-Kutuk
Koran yang mana ? aku hari ini belum baca koran blas, tadi datang, trus mbantu anak-anak gangnya marmotji masang penjor...
Ah..yang benerrrrr....
Buat apa aku bohong urusan koran, kalo jajan mungkin bisa aku bohong Wessssh... itu sama saja, sama-sama berbohong, apa susahnya tidak berbohong ?
Berbohong dan tidak berbohong selisih tipis, tapi lebih enak tidak berbohong, jangan di balik, cak !
Endak, Ndrooong, aku belum pegang koran sore ini
Wah..wah..wah...aku belum baca sama sekali...
[dari kejauhan, marmotji ngos-ngosan, kaos lusuh berlumur keringat, berjalan mendekat...]
Ndrong, minum !!!
Teh panas ?!
Kamu jadi raja-tega gituuu, yaaa es-teh lah...mosok orang sudah jelas bernapas seperti mesin uap gini kamu kasih teh panas..
Lhoh, kalau sudah bernapas seperti mesin uap, dikasih teh panas, kan tinggal berangkat...koyok sepur lempung...hahahahahahahaha....oalah caaak...guyonanmu koyok ensten[baca:einstein]. nih..es-teh-mu.
Tumben Tji, kog es-teh, bukan teh panas ?
Ah, sampean ini..., wong panas, ya minumnya dingin...supaya cepet ilang panasnya...[Nanang enteng saja menyahut].
Hussshhh...jangan biasakan nyaaauuutt...kamu itu ndak bisa menghargai diri-sendiri, kayak gitu itu...[ Gondrong bener-bener marah...mata mendelik mengarah tunggal ke Nanang].
Naaang, biasakan menghormati diri-sendiri dengan menunggu waktu sing pas waktu ngobrol gini ini.
Sudah-sudah, Ndroong, ndak usah mendelik gitulah, ngomong datar ajalah, biasakan ngomong datar, biar ndak boros energi...mosok gini aja harus ditengahi..wuuuaaaah...bener-bener rejeki tenan iki, es-tehmu, Sing Nduwe Urip iki sangat sayang sama kita, coba bayangkan kalao kita ndak bisa mbedakan es-teh sama teh-panas...
Bentar Tji, jawaben itu pertanyaannya Gondrong, tumben kamu minum es-teh...
Hehehehehehe..Sebenarnya cuman sekedar rasa-ingin tahu Ndrong, Naaang... Gimana sih, bedanya minum sesuatu itu dengan roso yang beda sama kebiasaan. Heheheheheheh..istilah'e Nabrak-Kultur...
Kultur itu maksudnya, kebiasaan, sing dipikiran kita biasa nyanthol itu apa sih....Yah sama halnya kalo aku makan nasi, lebih suka pake garpu dari pada sendok, atau Gondrong, lebih suka makan nasi sayur sawi, daripada nasi sayur asem..coba pikiren, kenapa ???
Lhooh..apa ndak beda thoo...kultur sama kebiasaan kita makan, minum, atau nonton tivi atau cuman nyetel radio begini. Kultur itu lak kebudayaan, wiiih..koyok Rendra rek aku nek ngomong ngene..hik..hik..hik..
Sama saja Ndrooong.. Seperti tadi waktu Gondrong marahin Nanang, ngomong dalam ngobrolnya orang banyak begini, harus nunggu waktu atau kesempatan, bukan asal nyamber, tahu kan istilah 'saur manuk', seperti suara burung sahut-sahutan, blaas ndak bisa dinikmati. Itu kan budayanya orang yang saling menghargai dan saling menghormati.
Biasanya bila terpaksa melakukan itu, kan selalu menunjuk tangan dan bilang, eh sepurane, eh maaf.. seperti juga nek di sidang-sidang resmi biasanya ada istilah, interupsi. Maksudnya adalah mengganggu sebentar, untuk berbelok dari suasana ngobrol sing wis mlaku...
Dan akan berbahaya sekali, bila kita ndak bisa memiliki kultur yang terus menaik atau terus membaik; maka akan muncul yang namanya kultus; dan kebetulan sing paling enak dikultuskan adalah orang; karena bisa dapat uang atau hadiah lainnya.
Kultus itu penyakit. Karena cuman ngikut aja apa yang dibilang, tanpa mikir.
Lha itu kan sama dengan bebek. Dihalau ke timur, larilah dia ke timur, kemana aja nurut.
Waduuuh...jok banter-banter talah nek mikir Tji...
Panganan opo tho kuwi Kultus...nek klutuk kuwi aku ngerti...
Hahahahaha...jambu klutuk !!!
Jambu klutuukk, piye tho akh...itu jambu biji kan ?! Ya ya ya...
Sampean tau kenapa kog disebut jambu klutuk ?
Itu karena kalo makan buah itu, terus bijinya ngikut tergigit masuk mulut, maka bijinya saat kena gigi geraham kita, kan bunyinya seolah terdengar, klutuk-klutuk-klutuk..gituuu...
Tetapi sebenarnya itu kan sama saja, kalo sampean sangat marah, tapi ndak bisa melampiaskan, coba dipikir..kira-kira kan sama seperti makan jambu klutuk tadi.
Gigi geraham atas, ketemu gigi geraham bawah...bunyinya kan mirip...heheheheheh
Lhah..kalo sudah memuncak kemarahan itu, dan terpaksa meletus, coba tebak apa kira-kira yang terjadi ???
Yo misuh-misuh cak !!! eh...opo jeneng'e ndik bahasa Indonesia ? eh yoo..aku ingat ! Sumpah Serapaaaah !!!
Hahahahahah....benerrrr... Sumpah serapah itulah yang bisa juga kita anggap sebagai merutuk, atau mengutuk...
Bayangkan.. kita ndak sadar lhoooo..ngomong sesuatu sing melip iki rek..
Kultur, terus Kultus, terus Klutuk eeeehh..malah bablas ke Kutuk...
malah nyambung semua...trus sampean tahu apa maknanya...
Itulah ruginya wong sing ndak mau terus belajar..
Budaya itu tumbuh terus ke arah yang baik, jika orang-orang mau belajar...
tetapi menjadi aneh jika ndak bisa belajar, maka njelma jadi kultur..
Lalu biasanya ada yang memanfaatkan jadi kepentingan pribadi, berubahlah jadi kultus...
Maka muncullah ketidakadilan kecil-kecil, yang mengkristal dan meletus sedikit-sedikit...jadi klutuk-klutuk-klutuk
Kalau sudah ndak tertahankan jadilah ia perilaku yang sangat tidak menyenangkan semuanya...karena pasti caci-maki..kutuk terus setiap hari...
Padahal kalau kalian ndak sadari setiap hari mencaci-maki orang, sebenarnya mental kalian akan terus tergerus, jadi terus memburuk...
Lhhaaaaaah...buuuuaaaaahhhhaaaaayyyyyyaaaa...kaaan ?
Adododoooooo.... Es-teh ae dadi obrolan koyoook ngene rek..lah nek sampean tadi tak kasih STMJ, ngomong opo maneh Tji ?!
Wah nek STMJ, itu bukan kulturmu selama ini tho Ndrong, apalagi sama orang yang mampir siang-hari..???? tapi bukan minumnya
Hehhh....iki mesti salah meneh artine.....[sudah pasti ini ekpresi paling menarik..Gondrong ndlongop]
Lha wong STMJ itu singkatan'e... Sering Tertipu Manisnya Janji...hahahahahahahaha
......hahahahahahha....kalau itu sih...semua dari kita pasti STMJ, apalagi musim kampanye...dan pas banget itu Tji sama tadi itu, Kultur-Kultus-Klutuk-Kutuk
16 August 2007
Triijiii
Dia keluar dari rumah kostnya.
Wajah kayak bikang gosong kebesaran api kompor.
Mulut dilipat, mulut ngos-ngosan ngemut rokok lintingan kertas HVS.
Dan satu lagi, wiridan cak-cik-cuk ngicir kayak petasan imlek।
Jelas aja, biang club motor CB100, Andi, yang lagi enak-enak nyruput kopi utangan di warung Gondrong, mendelik.
Bukan kepanasan, tapi memang dia adalah musuh bebuyutan si marmotji. Dia benci warna suara anak kost satu ini, yang dia istilahkan sebagai suara cangik, pelayan kurawa. Melengking, tapi timbre. Udahlah pokoknya bisa buat orang hamil bisa melahirkan lewat udhel. Begitu jawaban anak camat Wonokramen ini, setiap ada teman menanyakan. Kenapa kamu begitu sengit kayak kucing kehilangan kuku kalau kelihatan baunya marmotji.
Apalagi Andi memang tahu benar lagak marmotji yang paling benci musik kerakyatan. Pasti meningkah dan cerita aneh-aneh tentang para musisi yang belum tentu dia tahu benar dimana letak udunnya.
Coba liat anak satu itu...
Tampangnya dah kayak wajan ndak pernah kena abu dapur. Metutat-metutut.
Ndrong, aku minta teh panas ! wes, orang dah enak kerja konsentrasi, tiba-tiba denger lagu orang betengkar rebutan sms...baaang..baang..baang..ini sms siapa... mangkane talah, handphonenya ditanya tadi tuh yang ngirim sopooo...
Halaaah...caak, mbokyo nyantai lah dikit. Mosok dengar musik beginian kog kayak celana robek sampe dada...
Kupingmu koyok batman ! Apa ya ada celana robek sampe dada...kamu pikir aku Jojon...!
Sudahlah cak marmotji sing nduwe kuping koyok tongkiiii...(ingat boneka yang sekarang ditiru oleh Susan, kupingnya lumayan besar)
Dah....nee..teh anget cup-cup..pasti uenaak..Ndak usah girap-girap gitulah...Triijii gituu...
Heee...apa itu ndrooong..? Triiijiii? itu lak handphone jaman saiki ...gayamuuu...apa ada hubungan sama musik begeneee...
Ooo...Jelas...Wong Triijiii(3G)...itu Geleng-Geleng-Goyang kok...
Meledaklah suasana warung Gondrong...hahahahahahahaha
Kali ini skak-mat marmotji..biang sok nuturi orang dia sekarang kena plesetan ala gondrong, anak petani tambak Lamongan, yang diam-diam rajin langganan koran pagi-siang-sore.
Wehhh...mangkanee tho.. sing sareh...kan awak sampean yo tau ngomong... nek sampean kuwi sing sekolah ming otak saja, mulut endak...
Lah kalo saya ini, karena kere bin mufakirin, borongan kere sakndeso, yo sekolahe mung mulut saja, ndak usah pake mikir, pokok'e njeplak...buktine..yo isok sampean utangi saben pagi dan malem...tanpa perlu nagih thooo...
Hahahahaha...Skak-mat lagi marmotji...
Wah weess...wajahnya sudah jepitan jemuran karatan. Mau berdiri malu, mau duduk kog rasane diinjak-injak harga dirinya sampe mlorot-ngebor.
Ya..ya..ya...musik begini seh asyik juga kalo buat temen nyruput teh...
Teh thok, ndak pake krupuk ?
Sampek menthok, gak nggawe nggepuk ?
Ah itu bukan gayanya marmotji yang aku kenal...
Wah..wah..wah..Gondrong lagi keluar nyalinya ngerjain marmotji
Sebenarnya sampean bener Ndrong...nyaris sempurna apa yang tadi dibilang...
Tapi ada satu Triji yang sampean ndak pernah bisa.
Ah menghina bener omongan orang yang badannya otak semua begini... (hahahaha...bisa kan bayangkan orang gemuk yang lemaknya nonjol dimana-mana)
Iya Ndrong, sampean bisa sukses kalo bisa Triji yang satu ini. Tapi sampean ada bakat kog.
Lho...sebentar..apa tho Triji-mu ini...
Yo gampang thooooo...Triji itu adalaaah..Trima Gaji saja..mo kerja kek, mo ngrumpi kek, mo mlongo kek, mo tidur kek...gak urus..pokok Triji...ra sah mikir macam-macam.
Daripada sekarang...bolak-balik ngurusi warung kayak begini, walau ndak pernah nagih utang, tapi inget terus..
Coba Triji, ingetnya juga cuman satu...
Triji thook..
Tiba-tiba Andi nyeletuk...Halah ndengerin dirimu ngoceh, kita semua jadi Trijitibeh...
Heh...?
Yo..Trijitibeh (ingat semboyan Diponegoro, Tijitibeh, mati siji, mati kabeh)...
Kayak kita-kita di warung ini, kayak begini ini, antri siji, mati kabeh....
Gara-gara kamu datang..semua yang nunggu mie goreng jadi mati semua, ndak dibuatin Gondrong...
Dasar mulut knalpot ! Gak pake gas..ngebul teruuus.
Weehh...bener-bener skakmat marmotji kali ini.
[Lah yoo tho Tji, Tji..wong Njeng Rasul juga pernah bilang, Kalo ndak bisa ngomong mending diam, mulut itu sumbernya masalah, sumbernya fitnah. Daripada mengeluh dan memaki, mending wiridan yang bener; Sudah banyak sekali contoh, bahwa salah satu kata saja, hidup orang satu bangsa jadi bermasalah. Gusti Alloh itu ndak sareee..Tjii]
19 July 2007
Citarasa Sejati
Eh..Sebenarnya ya kalau ampyang (penganan penuh dengan biji kacang) ini gak pake digoreng kan bisa lebih murah ya Tji ? apalagi harga minyak goreng sekarang lagi mahal-mahalnya.
Digodhog ato dikukus gitu maksudmu, Nanang asal nyamber menjawab tanpa menoleh sederajatpun, menekuni komik Bulus-Pati yang baru ada dikolong pos jaga RW.
Maksudmu ? Nang ! sampe KubilaiKhan kencing berdiri sekalipun, gak bakal mateng itu ampyang kalo digodhog, mangkanya tho, kalo ngomong itu pake dipikir !!!. Weh, Gondrong bisa marah juga, mendelik, mata-merahnya makin membara, maklum belum tidur dan terpaksa nggantikan Bejo yang mestinya jaga warung malam itu.
Whusss...nggak usah pake nge-gas gitu kenapa...nyantai aja Ndrong...minta kopinya lagi, yang panas no-thog yaa.
Sebenarnya Ndrong, ampyang kan khasnya ya sudah begitu itu, kalo digodhog atau dikukus seperti kamu bilang tadi, kan namanya bukan lagi ampyang, mungkin jadi ampyung atau ampying...hehehehe...
Whrakadah...bukan itu maksudku,Tjiiiii... wah gini ini kamu kalo duduk sebelahnya Nanang, hayo pindah..pindaaah...kalo ndak pindah, ndak aku kasih kopi ini lagi.. hayo sini, duduk sebelah sini. Gondrong ndremimil ngoceh kayak knalpot lepas saringannya.
Yah..mulai tindakan SARA, tukang warung ini, membeda-bedakan status. Mentang-mentang aku ngutang bulanan, sudah diperlakukan semena-mena kayak begini. Nanang protes keras.
Lhaa..ya endak...biar kupingku ini bisa mbedakan mana bener mana salah. Kamu sudah jelas-jelas bagian kiri saja. marmotji ini saja yang masuk dari kuping kanan. Yo, Tji, ngomong-o sing bener ! Nih kopimu !
Wah..ngomel gara-gara ampyang ya begini ini.
Ya, endaklah, Tji. Aku cuman kasihan sama si Tuti itu, semalaman cuman jadi seratus biji ampyang, harganya pun kamu tahu, trus dia mau untung berapa ?
Mikirku sih daripada repot mbikin adonannya, lagipula bisa ngirit modal, ndak usah beli tepung lagi. Kan nilai jualnya juga tetap....
Tapiiii...Ndrong, akhirnya jualanmu, ndak ada lagi yang namanya ampyang kaan ?
Betul ! tapi kan kenyataannya, anak-anak yang nongkrong disini, gak peduli apa namanya, yang penting ada sesuatu yang masuk mulut ! Beres ! Ndak repot mikirnya Tji !. sergah Gondrong. Terkesan banget kalau dia berusaha meyakinkan bahwa dia benar.
Wah, yang begini ini yang aku bisa bilang kekejaman pedagang...ya, jangan semena-mena tho Ndroong. Asal ambil kesimpulan kayak begitu. Cobalah mengerti selera orang...yang kebetulan jadi pembelimu.
Nhaa..Ndrong ! Kamu itu kejam ! marmotji aja bilang begitu...
Waduh, kamu ini..diiammm....!!!
Ya, aku tadi bilang kekejaman pedagang, bukan berarti Gondrong kejam. Lain loh.
Kalau Gondrong kejam, berapa banyak kita dan teman-teman yang sudah menikmati pinjaman tanpa bunga, karena makan bisa ngebon ? heh ? Marilah belajar mengerti, aku ndak ngajak menjadi bijaksana, cuman ngerti aja.
Begini.
Ampyang adalah makanan khas, ya begitu cara masaknya. Barangkali sekarang bisa dibilang akan sangat ngrepoti, karena begitu banyak tahapan masaknya, lain sama pisang goreng. Kupas-Celup-Goreng, sudah, tinggal jual. Dan memang selisih untungnya pun beda. Tapi itulah pilihan. Dan untuk milih, tentu agak lama mikirnya. Bisa jadi juga ngrepotin, wong cari rejeki kog malah direpoti macem-macem. Tapi itulah namanya sebuah sisi hidup yang dituntunkan sama sing Mbaurekso Urip. Butuh kesabaran. Butuh ketelatenan. Butuh ketekunan. ya thooo...
Di kitab-suciNya juga begitu. Ada firman-firmannya yang selalu diawali, hai orang-orang yang berpikir.
Terus..terus...terus...gak usah ambil napas...kamu kan sudah biasa repot mikir !
Wes..wes..weeees...Ndrong! Rasa ingin tahu pun juga harus ada kesabarannya. Kalau ndak gitu, Thomas Alfa Edison ndak bakal nemu lampu, betuul ?!
Nah, sebenarnya mikir yang ngrepoti itulah yang harus kita hindari. Karena bakal menyusahkan banyak orang, dan sebenarnya ngrepoti itu kan sama dengan nyusahin. Hukumnya dah jelas, kalo dibilang nyusahkan. Tetapi kalo ngrepoti diri sendiri kan memang seharusnya kita sebagai manusia, harus terus berpikir, itu tandanya dia memang mahluk sing lebih tinggi dari yang lain !. Paham ?!
Sama dengan ampyang, agar dia dapat cita rasa yang diinginkan dan memang berbeda dari semua penganan asal kacang kan harus dipikirkan. Baru dicobakan dimasak..jadi, terus dicicipi..eeeh..memang beda rasanya. Sekarang aku nanya, apakah ampyang disini selalu bersisa ? endak kaan ?! Wess..kamu ndak njawab, Ndrong !
Jadi kalau gak mau repot mikir ampyang kan, karena kamu sudah repot ngladeni kita-kita yang mintanya macam-macam. Tapi repot mikir agar layananmu lebih baik, kan selalu kamu lakukan, betul ?! (Gondrong cuman melek-merem mengangguk...hehehe aneh juga)
Tetapi jangan disamakan seolah kita semua sama, wong masak begini aja bisa, kog repot. Itulah yang harus dicari, harus ditemukan dalam hidup. Dinamika, apa yaa persamaannya.
Terus berubah, Tji..(tiba-tiba si Nanang menyahut)
Haaa...betul, Nang !. Terimakasih. Itulah perubahan yang harus kita nikmati sebagai makhluk hidup sing kataNya paling pinter. Coba kamu ingat-ingat apakah pembelimu tetep aja permintaannya dari waktu ke waktu ? endak kaan ?
Lhah kalau kamu ndak mau repot mikir, apa kamu mikirnya ndak kerepotan, tiba-tiba saja yang nongkrong disini habis ndak bersisa. Ndak mau kan kamu ?
Nah mestinya kita selalu repot mikir...kecuali yang satu ini, mikirnya ngrepotin...tapi juga ada loh, orang-orang selalu kerepotan cari pikiran. Coba aja cari, tapi syaratnya ndak boleh pake bumbu curiga.
Kayak kamu juga bisa repot-repot mikir, gimana caranya nempelkan butir-butir wijen kecil ke onde-onde...gimana yaa caranya, apa pake pinset..? hahahahaha..
buktinya sampean juga masih jualan onde-onde...
12 June 2006
Past Indonesia
There are some separated island which is little rat alive